Ada Valentine’s Day, Ada Pula White Day

December 22, 2009

Kebiasaan merayakan hari valentine (valentine’s day) sudah menyebar di berbagai pelosok dunia, termasuk Jepang. Meski merupakan kebiasaan yang berasal dari negeri Barat, hari valentine selalu meriah dirayakan di Jepang setiap tanggal 14 Februari. Para wanita, terutama wanita muda dan bekerja, sibuk menyiapkan kado cokelat untuk diberikan kepada sejumlah pria yang berkaitan dengan dirinya. Sifat pemberian ini sebenarnya dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu sebagai wujud perhatian dan cinta, dan sebagai sekedar kewajiban. Cokelat untuk tujuan pertama disebut “honmei choco”, sedangkan cokelat untuk tujuan sekedar kewajiban saja disebut “giri choco”. “Giri choco” diberikan kepada rekan-rekan pria, bos, dll, sedangkan “honmei choco” diberikan kepada pria yang ditaksir, atau kekasihnya. Secara umum, seorang pria merasa agak kurang nyaman bila pada hari valentine tak ada seorang wanita pun yang memberinya cokelat atau hadiah valentine.

Untuk membalas pemberian hadiah valentine, bagi kaum pria tersedia kesempatan satu bulan kemudian, yaitu pada tanggal 14 Maret yang disebut “White Day” (Hari Putih). Mengapa disebut demikian? Ada ceritanya. Sebagaimana dibalik valentine’s day ada perusahaan pembuat cokelat, maka white day juga “diadakan” oleh sebuah perusahaan pembuat manisan marshmallow, sehingga pada awalnya disebut dengan Marshmallow Day. Pada tahun 1965 perusahaan tersebut melancarkan kampanye agar para pria membalas pemberian cokelat atau hadiah yang diterimanya pada hari valentine. Mereka menyarankan agar para penerima hadiah valentine membalas dengan memberikan hadiah manisan marshmallow produknya, yang pada umumnya berwarna putih. Itulah asal mula white day. Kemudian perusahaan-perusahaan lainnya, terutama perusahaan-perusahaan pembuat cokelat ikut-ikutan memanfaatkan kesempatan dengan mengeluarkan cokelat berwarna putih untuk hadiah balasan tersebut. Secara perlahan, pemberian manisan marshmallow mulai berganti dengan cokelat putih. Namun dewasa ini, jenis hadiah telah meluas, bisa saja berupa bunga, sapu tangan, asesoris, dll. Konon wanita paling senang apabila mendapat hadiah bunga beserta kartu ucapan dari seorang pria yang pernah diberinya cokelat valentine.

Aneka Jepang, 314 2006 (1)

 

Penggunaan Kata “anata”

December 22, 2009

 

Dalam pelajaran dasar bahasa Jepang, pada umumnya orang belajar bahwa kata untuk menyatakan “saya/aku” adalah “watashi”, sedangkan untuk menyatakan “kamu” atau orang yang diajak bicara (lawan bicara) adalah “anata”. Nah, dalam hal ini, para siswa yang baru belajar bahasa Jepang harus sangat hati-hati dalam menggunakan kata “anata”, bahkan sebaiknya tidak menggunakannya sama sekali. Karena penggunaan kata “anata” secara sembarangan akan menimbulkan situasi yang sulit, bahkan memalukan. Mengapa demikian? Berikut ini dijelaskan latar belakang budayanya.

Masyarakat Jepang jarang sekali menggunakan kata “anata” dalam pergaulan di luar rumah. Kata “anata” (seperti yang sering kita dengar di film) merupakan kata yang menyatakan “kamu”, yang digunakan oleh istri untuk memanggil suaminya. Kata ini juga digunakan oleh seorang ibu untuk memanggil anaknya ketika memarahinya, padahal biasanya ibu memanggil anaknya dengan nama depannya saja.

Kata “anata” tidak boleh digunakan untuk menyapa atau memanggil orang lain di luar keluarga, apalagi kepada orang yang kita hormati dan kepada orang yang baru saja kita kenal. Dalam beberapa situasi tertentu, boleh digunakan untuk menyapa/memanggil orang yang lebih muda. Lalu, bagaimana caranya menyapa/memanggil orang lain atau lawan bicara kita? Biasanya orang Jepang menyebutkan nama orang yang bersangkutan dengan ditambah “san”. Misalnya nama orang tersebut “Yoshio Yamada”, maka orang itu disapa “Yamada-san”, karena Yamada adalah nama keluarga; jangan menyapa/memanggil “Yoshio-san”, kecuali kalau kita sudah sangat akrab dengannya dan posisi sosialnya setara. Lalu, bagaimana kalau kita tidak tahu namanya tapi tahu posisinya? Kita boleh menyapa/memanggilnya sesuai nama jabatannya, ditambah “san”. Misalnya dia seorang direktur perusahaan, maka kita memanggilnya “Shacho-san” (shacho : direktur). (Untuk dokter dan guru atau pakar keilmuan tidak digunakan “san” , tetapi “sensei” ; misalnya dokter Tanaka, dipanggil “Tanaka sensei” ).

Staf hotel atau restoran menyapa tamunya dengan “Okyaku-san” (tamu yang terhormat), demikian pula di toko-toko.

Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak kita ketahui namanya dan tidak diketahui jabatannya? Kita tetap bisa menyapanya, bisa tanpa memanggilnya dengan sebutan apapun, tetapi kita gunakan bahasa sesopan mungkin. Dalam bahasa Jepang, kita bisa melontarkan pertanyaan atau menyebutkan sesuatu berkenaan dengan orang yang kita ajak bicara, dengan memakai tingkatan bahasa sopan tertentu. Atau, sebagaimana banyak yang dilakukan oleh para wartawan, dipakai kata sapaan “sensei”, yang menyiratkan bahwa kita menghormati orang yang kita ajak bicara. Kata “sensei” sebenarnya digunakan untuk menyapa dokter, guru, dan pakar keilmuan.

Dengan demikian, para siswa yang baru belajar bahasa Jepang, disarankan agar menghindari penggunaan sapaan “anata” kepada orang Jepang yang diajak bicara, kecuali bila orang itu sudah menjadi pacar!

Aneka Jepang 319 2007 (2)

Materi Pelajaran Bahasa Jepang SMA Kelas XI semester 2

December 11, 2009

Kehidupan Sehari-hari:
1. Kegiatan sehari-hari
2. Kegiatan pada waktu senggang
3. Berbelanja

Hello world!

December 11, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!