Penggunaan Kata “anata”

 

Dalam pelajaran dasar bahasa Jepang, pada umumnya orang belajar bahwa kata untuk menyatakan “saya/aku” adalah “watashi”, sedangkan untuk menyatakan “kamu” atau orang yang diajak bicara (lawan bicara) adalah “anata”. Nah, dalam hal ini, para siswa yang baru belajar bahasa Jepang harus sangat hati-hati dalam menggunakan kata “anata”, bahkan sebaiknya tidak menggunakannya sama sekali. Karena penggunaan kata “anata” secara sembarangan akan menimbulkan situasi yang sulit, bahkan memalukan. Mengapa demikian? Berikut ini dijelaskan latar belakang budayanya.

Masyarakat Jepang jarang sekali menggunakan kata “anata” dalam pergaulan di luar rumah. Kata “anata” (seperti yang sering kita dengar di film) merupakan kata yang menyatakan “kamu”, yang digunakan oleh istri untuk memanggil suaminya. Kata ini juga digunakan oleh seorang ibu untuk memanggil anaknya ketika memarahinya, padahal biasanya ibu memanggil anaknya dengan nama depannya saja.

Kata “anata” tidak boleh digunakan untuk menyapa atau memanggil orang lain di luar keluarga, apalagi kepada orang yang kita hormati dan kepada orang yang baru saja kita kenal. Dalam beberapa situasi tertentu, boleh digunakan untuk menyapa/memanggil orang yang lebih muda. Lalu, bagaimana caranya menyapa/memanggil orang lain atau lawan bicara kita? Biasanya orang Jepang menyebutkan nama orang yang bersangkutan dengan ditambah “san”. Misalnya nama orang tersebut “Yoshio Yamada”, maka orang itu disapa “Yamada-san”, karena Yamada adalah nama keluarga; jangan menyapa/memanggil “Yoshio-san”, kecuali kalau kita sudah sangat akrab dengannya dan posisi sosialnya setara. Lalu, bagaimana kalau kita tidak tahu namanya tapi tahu posisinya? Kita boleh menyapa/memanggilnya sesuai nama jabatannya, ditambah “san”. Misalnya dia seorang direktur perusahaan, maka kita memanggilnya “Shacho-san” (shacho : direktur). (Untuk dokter dan guru atau pakar keilmuan tidak digunakan “san” , tetapi “sensei” ; misalnya dokter Tanaka, dipanggil “Tanaka sensei” ).

Staf hotel atau restoran menyapa tamunya dengan “Okyaku-san” (tamu yang terhormat), demikian pula di toko-toko.

Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak kita ketahui namanya dan tidak diketahui jabatannya? Kita tetap bisa menyapanya, bisa tanpa memanggilnya dengan sebutan apapun, tetapi kita gunakan bahasa sesopan mungkin. Dalam bahasa Jepang, kita bisa melontarkan pertanyaan atau menyebutkan sesuatu berkenaan dengan orang yang kita ajak bicara, dengan memakai tingkatan bahasa sopan tertentu. Atau, sebagaimana banyak yang dilakukan oleh para wartawan, dipakai kata sapaan “sensei”, yang menyiratkan bahwa kita menghormati orang yang kita ajak bicara. Kata “sensei” sebenarnya digunakan untuk menyapa dokter, guru, dan pakar keilmuan.

Dengan demikian, para siswa yang baru belajar bahasa Jepang, disarankan agar menghindari penggunaan sapaan “anata” kepada orang Jepang yang diajak bicara, kecuali bila orang itu sudah menjadi pacar!

Aneka Jepang 319 2007 (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: